The Eye in the Sky

psikologi CCTV dan bagaimana perasaan diawasi mengubah moralitas publik

The Eye in the Sky
I

Pernahkah kita berjalan sendirian di lorong minimarket pada pukul dua pagi? Tidak ada siapa-siapa di sana. Kasir sedang ke toilet. Di depan kita ada sebatang cokelat yang sangat kita inginkan. Secara fisik, sangat mudah untuk mengantonginya dan berjalan keluar. Tapi kemudian, mata kita menangkap sebuah kubus kecil di sudut langit-langit. Ada lensa kaca di sana, lengkap dengan lampu merah kecil yang berkedip. The Eye in the Sky. Tiba-tiba, kita meletakkan kembali cokelat itu atau menaruh uang pas di meja kasir.

Mari kita berhenti sejenak dan merenungkan momen itu. Saya sering bertanya-tanya, apakah keputusan kita untuk tidak mencuri barusan lahir dari moralitas kita yang luhur? Ataukah kita mendadak menjadi "orang baik" hanya karena takut pada sepotong plastik dan sirkuit elektronik? Jawaban dari pertanyaan ini sebenarnya akan membawa kita pada sebuah rahasia gelap tentang bagaimana otak manusia bekerja.

II

Untuk memahami mengapa kamera pengawas begitu berkuasa atas diri kita, kita harus memutar waktu jauh sebelum listrik ditemukan. Otak kita tidak berevolusi di era digital. Otak yang kita pakai hari ini adalah otak yang sama dengan yang dipakai nenek moyang kita saat hidup nomaden di padang sabana puluhan ribu tahun lalu. Pada masa itu, bertahan hidup berarti kita harus diterima oleh kelompok. Jika kita ketahuan egois, mencuri makanan, atau berbuat curang, kita akan diusir. Dan diusir dari kelompok pada masa prasejarah sama artinya dengan mati dimakan predator.

Karena ancaman inilah, otak kita mengembangkan sebuah radar super sensitif yang disebut gaze detection atau deteksi tatapan. Kita secara biologis diprogram untuk langsung sadar ketika ada mata yang menatap kita. Ini adalah insting murni. Perasaan diawasi akan langsung memicu alarm di otak kita. Alarm ini berteriak, "Awas, ada yang melihat! Bersikaplah yang baik atau kamu akan dibuang dari kelompok!" Selama ribuan tahun, mekanisme pertahanan inilah yang menjaga tatanan sosial manusia agar tidak runtuh.

III

Lalu, apa jadinya jika insting primitif itu diretas? Mari kita lihat sebuah eksperimen psikologi brilian yang pernah dilakukan oleh para ilmuwan di Universitas Newcastle. Di ruang istirahat kampus tersebut, terdapat sebuah mesin pembuat kopi mandiri. Orang-orang harus menaruh uang di dalam honesty box (kotak kejujuran) setiap kali mereka mengambil kopi. Karena tidak ada kasir, banyak yang curang dan tidak membayar.

Para ilmuwan kemudian melakukan trik sederhana. Pada minggu pertama, mereka menempelkan poster bergambar bunga di atas kotak uang itu. Pada minggu kedua, mereka menggantinya dengan poster bergambar sepasang mata manusia yang sedang menatap tajam. Hasilnya luar biasa. Pada minggu di mana gambar mata dipasang, jumlah uang yang terkumpul melonjak hingga tiga kali lipat dibandingkan saat gambar bunga dipasang.

Bayangkan, teman-teman. Itu hanya sebuah poster. Kertas yang dicetak dengan tinta. Tapi otak bawah sadar manusia tidak peduli. Sekilas melihat pola mata saja sudah cukup untuk memicu ketakutan evolusioner kita akan hukuman sosial. Hal ini memunculkan sebuah pertanyaan besar yang sedikit mengganggu: Jika selembar kertas saja bisa memaksa kita menjadi jujur, apakah moralitas publik yang kita banggakan selama ini sebenarnya cuma ilusi?

IV

Inilah kenyataan terbesarnya. Kehadiran jutaan CCTV di sudut kota, jalanan, hingga ruang kerja kita telah menciptakan apa yang dalam psikologi dan sosiologi disebut sebagai Panopticon effect. Konsep ini awalnya adalah desain penjara melingkar di mana sipir berada di menara tengah. Narapidana tidak pernah tahu kapan sipir sedang melihat ke arah sel mereka. Karena mereka merasa bisa diawasi kapan saja, mereka akhirnya mulai mengawasi diri mereka sendiri.

CCTV modern adalah Panopticon raksasa kita. The Eye in the Sky sebenarnya tidak membuat kita menjadi manusia yang lebih bermoral. Ia hanya membajak sistem ketakutan primitif kita. Kita akhirnya menaati aturan bukan karena kita percaya bahwa mencuri atau melanggar lampu merah itu salah, melainkan karena kita menghindari hukuman. Tanpa sadar, kita telah mengalihdayakan (outsource) hati nurani kita pada mesin. Kamera itu kini berfungsi sebagai pengganti kompas moral internal kita. Dan sayangnya, ketika moralitas hanya bergantung pada pengawasan eksternal, integritas kita menjadi sangat rapuh.

V

Memahami fakta psikologis ini mungkin membuat kita merasa sedikit sinis terhadap umat manusia. Tapi, saya mengajak teman-teman untuk melihatnya dari sudut pandang empati. Menjadi manusia itu memang rumit. Otak kita punya banyak celah biologis, dan terkadang kita memang butuh dorongan eksternal dari CCTV untuk menjaga tatanan masyarakat agar tetap aman. Tidak ada yang salah dengan itu. Teknologi ini menyelamatkan banyak nyawa dan mencegah banyak kejahatan.

Namun, sebagai makhluk yang memiliki kebebasan berpikir, kita punya pilihan untuk melampaui biologi kita. Mengetahui bahwa otak kita mudah ditipu oleh kamera atau gambar mata, seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua. Cobalah tanyakan pada diri sendiri: Siapakah kita saat lampu padam? Siapakah kita saat kamera rusak atau berada di titik buta (blind spot)? Karena pada akhirnya, moralitas sejati bukanlah tentang seberapa baik kita bertingkah laku di bawah sorotan lensa kamera, melainkan kebaikan apa yang kita pilih saat kita tahu persis bahwa tidak ada satu orang pun yang sedang melihat.